Sofyan & Rumah Rp 150 Juta

15082011Sofyan yang kini tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan KM 14 No. 159/19 C, Dayak, Makassar menceritakan awal keberangkatannya ke Korea pada tahun 2005. Dia berangkat melalui program penempatan antar pemerintah (government to government) dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Makassar.”Saya ngurus semua dokumen ke Korea sendiri di kantor Kemenakertrans Provinsi Makasssar dengan biaya standar yang ditetapkan pemerintah,” kata Sofyan usai mengikuti Bimbingan Teknis Pemberdayaan TKI Purna Bermasalah yang diselenggarakan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) 2011, di Kota Parepare, Sulsel, Rabu (10/8) lalu.

Selama di Korea, alumnus STM Khartika Bhakti jurusan otomotif alumni pada 2005 ini bekerja pada 2 (dua perusahaan). Pada 2005 Sofyan bekerja di perusahaan Namura yang memproduksi furniture selama 1 (satu) tahun . Setelah itu, ia ditempatkan di perusahaan Yong In She yang memproduksi plastik. sebagai operator mesin.

Di pabrik plastik inilah, Sofyan mengalamai kecelakaan kerja yang mengakibatkan 3 jari tangan sebelah kirinya terputus. “Mesin plastik di pabrik Yon In sudah terlalu tua dan berisiko kepada keselamatan pekerja. Mesin inilah yang mengakibatkan 3 jari tangan saya terpotong,” paparnya.

Akibat kecelakaan itu, Sofyan harus istirahat selama 4 (empat) bulan. Selama tidak bekerja gajinya secara rutin dibayarkan oleh perusahaan asuransi. Selain mendapat pengobatan dan gaji dia juga mendapatkan uang kecelakaan dari asuransi tempat bekerjanya sebesar Rp 230 juta.

Setelah sembuh, dengan dibantu Serikat Pekerja setempat, Sofyan menuntut perusahaan Yong In dengan tuduhan menggunakan mesin yang sudah tua sehingga berakibat mencelakaan pekerjanya.

“Sayang, tuntutannya tidak berhasil dan akibatnya dia dipecat dari perusahaan,” ujar Sofyan seraya menambahkan saat itu kontrak kerjanya di Korea masih 8 bulan lagi.

Akhirnya, Sofyan pun memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Dari uang asuransi yang ia dapat Rp230 juta ia pun membangun sebuah rumah di Jalan Perintis Kemerdekaan KM 14 No. 159 seharga Rp150 juta. Rumah itu kini ditinggalinya bersama istrinya.

Sementara untuk pengeluaran sehari-hari, dia pun membuka usaha penjualan voucher dan sembako. “Untuk modalnya saya keluarkan sebesar Rp50 juta,” papar Sofyan Untuk penambahan modal, ia pun mendapat kuncuran pinjaman dari Bank Rakyat Indonesia sebesar Rp35 juta. Hingga kini ia masih mencicil pinjaman BRI secara teratur. “Usaha voucher handphone dan sembako bisa menghidupi keluarga,” aku Sofyan.

Dia pun bersyukur mendapat pelatihan kewirausahaan dari BNP2TKI pada program Bimbingan Teknis Pemberdayaan TKI Purna Bermasalah yang diselenggarakan di Kota Parepare, Rabu (10/8).

Pada kesempatan diskusi, Sofyan sempat bertanya kepada nara sumber dari BNI terkait pinjaman tanpa modal bagi TKI Purna bermasalah. Alasannya, banyak TKI Purna yang kini menekuni usaha namun terbentur modal tambahan dari bank.

Sebagai lembaga keuangan, bank tentu akan membantu termasuk bantuan modal tanpa pinjaman. Namun program ini mengharuskan ada jaminan dari perusahaan lain semacam bapak angkat bagi usaha-usaha TKI Purna. Intinya, harus ada lembaga yang membina usaha TKI purna untuk mendapatkan pinjaman tanpa agunan.

Soal lembaga ini, kata Sofyanm, tentu akan ia pikirkan lebih lanjut dengan BP3TKI di Makassar nantinya. Namun terlepas dari pinjaman itu, ia kini makin mantap dengan bisnisnya. Dan, bekal pelatihan kewirausahaan BNP2TKI diakuinya sangat berharga.

“Saya tetap akan fokus pada pengembangan usaha ini,” ujar Sofyan.

Check Also

Testimoni: Imam Choiri

Assalamu’alaikummm wr..wb. Nama Saya: Imam Choiri Tempat,tgl/lahir: Kediri, 11 Juni 1980 Jenis kelamin: Laki-laki Alamat: …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *